Minggu, 02 Juni 2013

Saving, Investing dan Trading


Mengelola keuangan itu penting,baik itu bagi yang masih single, terlebih lagi yang sudah berkeluarga. Pendapatan yang kita peroleh setiap bulan perlu kita bagi untuk kebutuhan jangka pendek (konsumsi) dan sebagian disimpan untuk masa mendatang atau jangka panjang. Disini saya ingin membahas tentang 3 rencana keuangan yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan untuk jangka panjang,yaitu Saving, Investing dan Trading.

Saving is a must. Menabung itu adalah sebuah keharusan,karena menabung digunakan untuk motif berjaga-jaga untuk kebutuhan tak terduga. Setiap orang perlu menyisihkan untuk menabung secara rutin,berapapun penghasilan yg diterimanya setiap bulan. Menabung bisa dilakukan dengan membuka rekening di bank ataupun menyimpannya sendiri secara konvensional.

Investing is for a future. Investasi lebih merupakan pengharapan bertambahnya nilai aset dalam jangka panjang. Investasi baru bisa dilakukan setelah kebutuhan saving sudah teralokasi dengan baik. Investasi dapat berupa pembelian aset tetap (tanah,rumah,ruko,dll) atau aset lancar (saham,reksadana,obligasi,emas). Dalam jangka panjang harga aset-aset tersebut akan naik seiring dengan laju inflasi, peningkatan pendapatan, kondisi ekonomi dan lain-lain.

How about trading?
Trading is an option.Secara umum trading bisa diartikan aktivitas perdagangan di pasar modal atau bursa berjangka,dimana seorang trader mendapatkan profit dari selisih harga jual dan beli di market. Adapun yg diperdagangkan bisa berupa saham,valas,dan produk derivatif lainnya.Trading merupakan pilihan,karena membutuhkan pengetahuan dan keahlian khusus serta megandung faktor resiko. Beda dengan investasi,aktivitas trading biasanya lebih bersifat jangka pendek. Bisa harian,mingguan ataupun bulanan dengan tujuan mendapatkan hasil yang lebih besar (high risk high return).

Nah pilihan mana yang cocok dengan anda? Sesuaikan dengan profil resiko anda ya....

Sabtu, 25 Agustus 2012

Kredit Mikro

Apa itu Kredit Mikro ?
Secara umum kredit mikro adalah kredit dengan plafond relatif kecil yang ditujukan untuk sektor usaha mikro. Dewasa ini banyak bank yang berlomba-lomba menawarkan kredit mikro dengan bunga yang bervariasi. Karena selama periode krisis moneter satu dekade lalu yg melanda Indonesia,sektor mikro telah terbukti tangguh melewati badai krisis. Di Indonesia sendiri potensi usaha mikro ini masih sangat besar. Kredit mikro ini pada umumnya berkisar sampai dengan 100 juta dan bunga efektif antara 10-25 % per tahun.

High Risk, High Return
Bila dibandingkan dengan bunga kredit ritel/menengah,bunga kredit mikro ini memang tergolong tinggi. Hal ini dikarenakan resiko macetnya juga besar. Resiko tersebut melekat pada karakteristik dari usaha mikro itu sendiri. Usaha mikro umumnya adalah usaha keluarga yg dikelola dengan kemampuan manajemen sederhana (cash flow usaha masih bercampur dgn pribadi), omset usaha < 300 juta per bulan, sebagian besar belum berbadan hukum (usaha perorangan), dan ketersediaan jaminan/agunan yg layak untuk me-cover kreditnya dan bahkan beberapa bank ada yg tidak mempersyaratkan jaminan sama sekali. Dengan kata lain pelaku usaha mikro ini masih banyak yg belum bankable / layak untuk memenuhi standar kredit perbankan.

Namun demikian, kredit mikro ini mempunyai peranan besar bagi pengembangan dunia usaha dan memunculkan entrepeneur- entrepeneur baru yang nantinya bisa "naik kelas" ke sektor usaha yg lebih besar. Beberapa waktu lalu pemerintah melalui program kemitraan dengan bank-bank BUMN memasarkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga relatif rendah yg ditujukan untuk pelaku usaha mikro. Dengan peran serta pemerintah ini diharapkan mampu mengedukasi sektor usaha mikro agar mempunyai akses perbankan untuk membantu permodalan dan melepaskan dari jeratan rentenir yg selama ini sangat melekat pada pelaku usaha mikro.

Jumat, 13 April 2012

Character of Credit Analyse

Bagi anda yg berprofesi sebagai Account Officer,Appraisal atau Credit Analist pasti sudah sering menjumpai istilah ini. Ya,dalam memproses calon nasabah kredit (debitur) selalu dihadapkan oleh aspek 5'C (character,capacity,collateral,capital dan condition). Kenapa character menduduki aspek pertama ? Karena mencerminkan kemauan/itikad membayar kredit yg akan menentukan credit itu lancar/tidak dikemudian hari. Sebelum melangkah ke aspek 4'C yg lain,seorang kreditur harus mampu menilai character calon debiturnya secara tepat,atau paling tidak mendekati benar. Betapa bagusnya rasio yg lain,tapi jika character debitur sudah jelek sudah dapat dipastikan akan terjadi wanprestasi di kemudian hari.

Cukup sulit memang mendapatkan gambaran character seseorang yg belum pernah kita kenal sebelumnya,karena sifatnya kualitatif dan sangat subyektif. Artinya penilaian orang yg satu dengan yg lain kemungkinan bisa berbeda. Salah satu metode lazim yg sering digunakan adalah dengan melakukan cek lingkungan. Tingkat akurasinya berkisar 70-80% . Yaitu dengan menggali info ke tetangga,saudara,teman ataupun rekan kerja calon debitur.Jika sebelumnya calon debitur sudah pernah kredit di bank lain, data kolektibilitas BI Checking/SID pun juga bisa kita pakai sebagai cek lingkungan. Info-info tersebut kemudian kita kompilasi sebagai bahan analisa.

Metode lainnya adalah metode autodidak. Ya,seiring jam terbang/pengalaman seorang analis sudah bisa memperoleh gambaran character calon debiturnya mungkin hanya dari satu sampai tiga kali tatap muka dan interview. Kelemahan metode ini adalah tingkat akurasinya relatif kecil antara 20-30%. Karena metode ini sangat bergantung pada kejelian atau insting seorang analis dalam menangkap informasi verbal ataupun non verbal. Karena itu sangat disarankan untuk menggabungkan kedua metode tersebut agar diperoleh gambaran yg mendekati benar.